31 December, 2009

Cuplikan dari karya buku pertama "KETIKA CINTA DIKALAHKAN CINTA"

Merasa belum pernah baca...? silakan ===>>>> KLIK DISINI Pada sebuah komunitas Islam yang telah truji aksi dan aktivitasnya, baik dikancah nasional maupun domestic sory bro,untuk saat ini tidak biasa menyebutin komunitas tersebut. Yang pertama gak kepingin nanggapin soal ethimologis kata “pacaran” tersebut, pada dasarnya dalam perbendaharaan bahasa Indonesia tidak dikenal yang namanya pacar, ataupun dengan imbuh-an. Karena dalam kamus besar bahasa Indonesia, melalui studi literature, tidak satupun terdapat kata tersebut yang ada juga tumbuhan pacar air kekeke… kesimpulan : bahwa pacaran merupakan bahasa slenk yang biasa digunakan dan sudah tersosialisasikan diberbagai lapisan masyarakat kita. Sama seperti istilah dii, kecengan…dll Kedua, benar bahwa dalam Islam tidak ada istilah pacaran… wong dalam bahasa Indonesia yang baek dan benar aja tidak ada…, yang jelas itu cumin sebuah pembenaran… kita semua kan tau kalo bangsa kiata paling hobi dengan yang na,manya pembenaran… kayak pejabat ORDE BARU bahkan sampe sekarang. Seolah-olah terjadi sebuah pelegalisasian! Gak bias siambil contoh sederhana..LONTE/ PELACUR jadi pekerja seks komersil…sebutan bekennya Psk (kayak karir aja hahaha..) MALING (dalam skala besar) sekarang dah jadi koruptor dll. Ketiga, kembali soal pacaran, sebetulnya kalo dibahas dengan agama islam yang merupakan agama paling mulia (yang notabene mengatur segala aspek kehidupan umatnya) gampang sih sebenarnya, pertanyaannya gini nich “ kenapa sih Islam sangat melarang pacaran?” jawabannya ganpang. Karena Islam menghargai wanita!! Sebenarnya manusia itu memiliki naluri (fitrah) sama seperti makhluk hidup lainnya, yakni berkembang biak. Jadi ya kalo udah dua-duaan pasti dong arahnya pengen bikin bikin turunan kekeke… Trusnya kalo udah bikin keturunan dan jadi anak … kasian dong anak tersebut?? Kalo bapaknya gak mau tanggung jawab? Apalagi kalo sampe dsigugurin? Blom lagi kalo dia besar jadi ejekan teman-temannya (tegha lo’ anak lo’ diejekin teman-temannya?..) Apalagi kalo tu anak ampe cacat gara-gara batal digugurin?? Nah loh!! Hahaha kesian dech lo nak!, punya bapak dan ibu gak bener!! . Trus soal ibunya, karena kejadian tersebut gak jamin orang yang jadi suaminya gak bakalan ngehargain dia seumur hidup!! (apalagi kalo yang jadi suaminya orang laen lagi)… kita semua tau kalo yang namanya laki-laki itu, egonya mengalahkan akal sehatnya = setinggilangit gak ada batasnya!!! Nah kalo udah begini apa dong bedanya manusia sama anjing? Kalo datang musim birahi asal genjrot aja tanpa kondangan?? Tidak mau ambil kesimopulan oaring pacaran = anjing… bakal didemo ntar, dan dibilang sok suci… lagian saya juga pernah dulu…dulu sekali…pacaran… Cuman begini, kita banyak liat di Negara yang membebaskan seks (free sex) ternyata tatanan sosoalnya jadi ngaco…bener gak sih? Keempat, sanking Islam itu amat menghargai wanita, agar wanita itu tidak diobok-obok sebelum waktunya, kecuali melalui cara yang sah (nikah) , Nabi Muhammad SAW (ya Allah berilah rahmat atasnya) ngomong: “Dilarang bagimu (pria) untuk berdua-duaan dengan wanita (yang bukan muhrimnya) walaupun dalam mengajar KITABULLAH!!” (Saya lupa hadist riwayat siapa, walaupun redaksionalnya gak persis sama tapi intinya seperti itu) bahkan untuk ngajarin kitab Allah aja dilarang! KESIMPULAN : 1. Pacaran islami itu tidak ada, trus jangan biasakan diri berada di area “abu-abu” kalo putih ya putih!! 2. Pacaran itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya 3. Islam sangat menghargai wanita 4. Yang namanya dosa itu cenderung memberikan nikmat sesaat 5. Belajarlah membedakan diri kita dengan makhluk hidup lainnya jika npengen dikatakan MANUSIA 6. Yang benar itu datang dari Allah,yang salah dari SAYA Semoga Allah membuka hati saya dan kita semua dan berjalan didalam Ridhonya. YANG BELUM PERNAH BACA SILAKAN DOWNLOAD DISINI GRATIS SELAMAT BELAJAR

Loading...




25 December, 2009

KONFLIK RUMAH TANGGA DALAM KORIDOR ISLAM

Bismillah walhamdulillah walaa hawla walaa Quwwata Illaa billah. Shahabat Islam yang berbahagia, kita bersyukur kepada Allah bahwa hingga hari ini Allah masih mengulur waktu buat kita. Berbicara soal vonis, sebenarnya setiap kita telah dijatuhi hukuman mati (QS.21:35), hanya jadwal eksekusi yang berbeda beda, ada yang minggu lalu, kemarin, tadi pagi, dan saya, Anda? Entah kapan, yang jelas waktu yang tersisa, harus kita maksimalkan untuk berbuat baik. Diantara kebaikan itu adalah: membangun sinergi yang baik antar dua kekasih yang diikat erat janji suci, suami dgn isteri. Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas saya dengan Ummu Naila sering menikmati sa’at-sa’at bertengkar, sebagaimana lebih menikmati lagi sa’at sa’at tidak bertengkar Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi. Baiklah, hari ini saya ingin paparkan resep keluarga kami dalam melangsung kan sebuah pertengkaran, alhamdulillah telah saya jalani selama 13 tahun, dan berhasil membangun keadaan yang senantiasa lebih asyik daripada sebelum terjadi pertengkaran. Tulisan ini murni Non Politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa menghapusnya Ketika saya dan si pencuri [hati saya] — eh enggak koq dia tidak curi hati saya, malah saya kasikan dengan ikhlas dibarter hatinya yg tulus–awal bertemu, setelah saya tanya apakah ia bersedia berbagi masa depan dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap, kami mulai membicarakan seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan via tulisan plus waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar maka : 1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah. Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu …..” Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah 2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa. Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya. (sampai hari ini, biaya pernikahan saya masih harus terus saya cicil, sayangkan kalau di delete begitu saja… Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”,maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah …. OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini ….. 3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga ! Saya dengan isteri saya terikat masa 13 tahun, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir dua kali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40). Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”. Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua ! 4. Kalau marah jangan di depan anak anak ! Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar : Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!” Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!! Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda ….. terus saya ini apa ?” Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita ??? 5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat ! Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaadil-ahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya. OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ….. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas …. ??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … 6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan (Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”. Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar. ANDA BISA BACA ARTIKEL YANG TERKAIT. KLIK DISINI

Loading...




RUMAHTANGGA YANG BAROKAH

Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan ke hadlirat Allah SWT. Berkat nikmat dan perkenan-Nya semata terlaksana semua kebajikan. Mahasuci “Dia yang telah menciptakan manusia dari air, dan dijadikan-Nya ia memiliki keturunan dan tali periparan” (QS. Al Furqon;54) Sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan panutan kita Nabi Muhammad SAW, yang menegaskan bahwa “Nikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan golonganku.” Ananda berdua, Pernahkah ananda merenung sebelum memasuki pintu gerbang pernikahan ini, mengapa ananda ingin memasukinya? Yakinkah ananda-sebelum kami yang hadir di sini yakin- bahwa kalian berdua telah siap? Sadarkah ananda, bahwa setelah ini dihadapan ananda terbentang ombak dan gelombang, yang dapat menghempas dan mematahkan kemudi, atau paling tidak ada riak dan getaran yang mampu mengolengkan perahu ? Apakah ananda berdua sudah siap dengan bekal ? Tentu, bukan hanya bekal materi dan cinta, tetapi bekal yang melebihi keduanya, yaitu ketaqwaan “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah bekal taqwa..” (QS.Al Baqarah;197) Ananda berdua yang insya Allah dirahmati Allah, Selama ini, ananda berdua menjadi amanah orang tua kalian. Mereka, dengan sekuat kemampuan telah memelihara amanah itu. Kasih mereka terhadap ananda terkadang melebihi kasih mereka terhadap diri mereka sendiri. Beribu ikhtiar mereka lakukan untuk selalu membuat ananda bahagia. Amanah yang diberikan Allah kepada orang tua kalian, telah mereka lakukan. Semoga Dia Yang Mahasempurna meridlainya. Kini saat ananda memasuki pintu gerbang pernikahan, maka giliran ananda yang akan memegang amanah itu. Sebelum ananda jauh berlayar, renungkanlah beberapa goresan pena yang diucapkan lewat lisan yang terbatas ini. Ananda berdua yang berbahagia, Mengapa setiap makhluk melakukan pernikahan, setidaknya menginginkan pernikahan? Karena dalam setiap diri makhluk tersebut ada naluri yang melahirkan dorongan seksual. Naluri itulah yang berperan dalam mewujudkan pernikahan. Ternyata tidak hanya manusia yang memilikinya , tetapi juga hewan, tumbuhan dan juga benda. Pernahkah ananda berdua mengamati sepasang merpati yang saling berkicau dan bercumbu sambil merangkai sarangnya? Juga bunga yang mekar dengan indahnya, merayu kupu dan lebah agar mengantarkan benihnya ke bunga lain untuk dibuahi? Juga atom yang positif dan negatif-elektron dan proton-yang berusaha bertemu untuk saling tarik menarik demi memelihara eksistensinya. Demikianlah naluri makhluk, masing-masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya. Agaknya tidak ada naluri yang lebih dalam dan kuat dorongannya melebihi naluri dorongan pertemuan dua lawan jenis, pria wanita, jantan betina, positif dan negatif. Itulah ciptaan dan pengaturan Ilahi. “Segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan, agar kamu menyadari (kebesaran Allah)” (QS. Adz-dzariyyat; 49) “Mahasuci Allah yang menciptakan semua pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi, dari jenis mereka (manusia) maupun dari ( makhluk-makhluk) yang mereka tidak ketahui “ (QS. Yasin:36) Inilah yang dinamakan law of sex (hukum berpasangan), yang diletakkan sang Pencipta atas segala sesuatu. Dengan demikian, keberpasangan atau yang lebih mudah dikenal dengan istilah perkawinan (pernikahan) dapat dikatakan sebagai “ aksi dari satu pihak yang disambut dengan reaksi penerimaan oleh pihak lain, yang satu mempengaruhi dan yang lain dipengaruhi”. Atas dasar inilah law of sex berjalan dan atas dasar itu pula alam raya diatur oleh Allah Rabbul ‘alamin. Jika kita mengakui bahwa keberpasangan merupakan ketetapan Ilahi yang berlaku umum, maka haus diakui juga bahwa ia bukanlah sesuatu yang kotor atau najis, tetapi bersih, suci lagi terhormat. Jika kita mengakui bahwa aksi dan reaksi, atau pengaruh atau mempengaruhi itu merupakan kodrat segala sesuatu, maka harus diakui juga bahwa tidak ada keistimewaan bagi yang melakukan aksi dari segi fungsinya sebagai pelaku, tidak juga ada kekurangan bagi yang menerimanya. Walaupun harus diakui bahwa yang melakukan aksi lebih kuat daripada yang menerimanya. Seandainya jarum tidak lebih keras daripada kain, atau pacul yang tidak lebih kuat daripada tanah, maka tidak akan ada jahit menjahit ataupun pertanian. Karena itu, jantan/laki-laki selalu mengesankan kekuatan dan penguasaan, sementara betina/perempuan selalu mengesankan kelembutan dan penerimaan. Namun demikian, kekuatan dan kelembutan sama sekali tidak menunjukkan superioritas satu pihak atas pihak lain. Masing-masing memiliki keistimewaan dan masing-masing membutuhkan yang lain guna mencapai tujuan bersama. Ananda terkasih, Mendambakan pasangan adalah fitrah. Kesendirian atau keterasingan adalah hantu yang dijauhi manusia, karena manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang membawa sifat dasar “ketergantungan”. “Khalaqa al-insan min “alaq” demikian pesan Al Qur’an pertama kali. Terkadang manusia ingin sendiri, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan untuk bisa menghadapi tantangan. Alasan-alasan itulah yang membuat manusia melakukan pernikahan, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Allah Maha mengetahui bahwa hal itu dialami semua manusia, maka syariat Islam menetapkan cara yang ma’ruf untuk mempertemukan pria wanita, sebab jika pemenuhan naluri seksual tersebut dilakukan secara keliru dan tidak terarah, hanya berbuah kebinasaan. “ Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah adalah Dia menciptakan dari jenismu pasangan-pasangan agar kamu (masing-masing) memperoleh ketentraman dari pasangannya dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS.Ar-Rum;21) Syariat Islam yang agung juga telah menetapkan bahwa standart utama dalam menentukan pilihan adalah agama. Nabi berpesan : “janganlah kamu nikahi wanita-wanita itu karena kecantikannya, karena mungkin kecantikannya itu akan menghinakan mereka sendiri. Dan jangan pula kamu nikahi mereka karena harta benda mereka, karena mungkin harta itu akan menyebabkan mereka sombong. Tetapi nikahilah mereka dengan dasar agama. Sesungguhnya budak yang hitam tetapi lebih baik agamanya, lebih baik kamu nikahi daripada lainnya.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi) Dengan demikian pernikahan dalam Islam tidak saja berdimensi duniawi, tapi juga ukhrawi. Ikatan pernikahan adalah perjanjian yang berat (mitsaqan galizha ). Ikatan tersebut akan kukuh jika dilandasi dengan keimanan yang sama. Di atas landasan iman inilah tumbuh mawaddah, rahmah dan amanah. Dengan landasan iman yang sama, mereka tetap akan dipersatukan Allah di akhirat, meski sudah dipisahkan oleh kematian di dunia. Allah berfirman : “Mereka bersama pasangan-pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS. Yasin :56) Sebagai bukti kesempurnaannya, Syariat Islam juga menetapkan hak dan kewajiban suami istri secara serasi. Ananda calon suami, ketahuilah bahwa kesediaan seorang wanita untuk hidup bersama dengan seorang laki-laki, meninggalkan orang tua dan keluarganya dan mengganti semua itu dengan penuh kerelaan untuk hidup bersama laki-laki “asing”yang menjadi suaminya , serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam , karena ia merasa yakin bahwa kebahagiannya bersama suami akan lebih besar dibanding dengan kebahagiaan bersama ibu bapaknya. Pembelaan dan penjagaan suami terhadapnya tidak lebih sedikit dari pembelaan saudara-saudara sekandungnya. Akhi telah dipercaya untuk itu. Oleh karena itu, janganlah kelak ia disia-siakan. Suami berkewajiban memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, mendidiknya dan mempergaulinya dengan baik. Allah berfirman : “Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan jika kamu tidak lagi menyukai mereka (jangan putuskan tali pernikahan), karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, tetapi Allah menjadikan padanya (di balik itu) kebajikan yang banyak.”(QS. An-Nisa:19) Rosul juga berpesan : “Dan berbaktilah kamu kepada Allah terhadap istrimu.Kamu telah mengambil mereka sebagai amanah Allah dan kamu telah menghalalkan persetubuhan dengan mereka dengan kalimat Allah. Maka hendaklah kamu memberikan makanan dan pakaian menurut yang ma’ruf” (HR. Muslim) Di sisi lain, Islam juga menetapkan kewajiban seorang istri kepada suami, antara lain, taat dan patuh, melayani suami dan menjaga hartanya dengan baik. Rosul berpesan : “Sebaik-baik istri adalah jika kamu memandangnya, maka kamu akan terhibur, jika kamu perintah ia menurut, jika kamu bersumpah agar ia melakukan sesuatu, akan dipenuhinya dengan baik dan jika kamu pergi, dijaganya dirinya dan harta bendamu.” (HR. Nasa’i ) Suami istri harus selalu saling mengingatkan, saling terbuka dan saling percaya. Hubungan suami istri bukan hubungan antara majikan dan buruh, antara penguasa dengan rakyatnya akan tetapi hubungan persahabatan. Dalam arti keduanya adalah sama-sama penting dan berarti. Kepada ananda calon istri, ketahuilah bahwa ananda nanti (insya Allah) akan juga menjadi ibu. Menjadi ibu bukanlah sekedar perkara melahirkan, menyusui, dan memenuhi kebutuhan material anak-anaknya. Ibu juga membentuk anak manusia, calon anggota masyarakat yang sedang merajut bangunan peradaban yang mulia. Karena itu, seorang ibu juga pembentuk akhlak, pengisi nilai dan selalu menyalakan pelita harapan serta impian bagi anak-anaknya. Ibarat pemahat, seorang ibu bukan hanya sekedar meraut wajah, tetapi juga mengisi pancaran watak, kepribadian dan keteladanan pada karya Allah yang hadir melalui dirinya. Ananda berdua yang dirahmati Allah, Ketahuilah bahwa keluarga muslim adalah satuan terkecil dalam sistem sosial umat Islam. Islam memandang keluarga tidak saja sebagai tempat menemukan ketentraman, cinta dan kasih-sayang (QS.30;21), tetapi juga sesuatu perjanjian berat yang akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah. Tujuan keluarga muslim adalah lilmuttaqina imaman. Untuk itu ananda berdua harus menjadikan keluarga ananda sebagai “masjid” yang memberikan pengalaman beragama bagi anggota-anggotanya; sebagai sebuah “madrasah” yang mengajarkan norma-norma Islam; sebagai sebuah “benteng” yang melindungi anggota-anggotanya dari segala gangguan; sebagai sebuah “rumah sakit” yang memelihara dan merawat kesehatan pisik dan non-pisik anggota-anggotanya dan sebagai sebuah “kompi” dalam hizbullah yang berjuang menyebarkan Islam ke seluruh alam. Akhirnya, kepada hadirin dan hadlirat sekalian, marilah kita antarkan ananda berdua dengan doa kepada Allah dengan hati yang ikhlas : Allahumma Ya Allah, Engkau saksikan detik ini kami bersama sedang menghadiri peristiwa, dua hamba-Mu mengikat janji. Menunaikan sunnah Rasul-Mu. Yakni pernikahan untuk mencari ketentraman, keturunan dan ridla-Mu. Limpahkan rahmat dan berkah-Mu kepada keduanya. Jadikanlah penghidupannya senantiasa berada dalam ibadah dan bakti kepada-Mu. Allahumma Ya Allah, jauhkanlah keduanya dari fitnah rumah tangga. Jadikanlah Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai pedoman hidupnya. Doa dan petunjuk ayah bundanya sebagai lentera diperjalanan. Perilaku para sahabat nabi sebagai teladannya. Peristiwa khidmat dan kesaksian kami pada detik ini sebagai pengukuh rumah-tangganya. Allahumma Ya Allah, tanamkan kasih sayang antara mereka berdua, sebagaimana Engkau tanamkan kasih sayang antara Adam dan Hawa, dan sebagaimana Engkau tanamkan kasih sayang antara Yusuf dan Zulaikha dan sebagaimana Engkau tanamkan kasih sayang antara Rasulllah dengan ibunya orang-orang Mu’min. Allahumma Ya Allah, anugerahilah kami dari isteri-isteri kami dan anak cucu kami keturunan yang menyengkan kami. Dan jadikanlah kami sebagai panutan bagi orang-orang yang bertaqwa. Allahumma Ya Allah, baguskanlah untukkku agamaku yang menjadi pangkal urusanku, baguskanlah duniaku yang menjadi tempat penghidupanku, serta baguskanlah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku menjadi bekal bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah matiku sebagai pelepas dari segala keburukan. Rabbanaa aatinaa fid dun-nyaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban naari. Selamat jalan ananda berdua, selamat meniti rumah tangga yang penuh rahmat dan berkah Ilahi. SILAKAN BACA ARTIKEL TERKAIT=======^>>> KLIK DISINI

Loading...




BANGGA JADI IBU RUMAH TANGGA

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah? Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah. Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga. Ibu Sebagai Seorang Pendidik Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya: “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33) Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya. Sebuah Tanggung Jawab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6) Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka. Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya) Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat. Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6) Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya. Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya: “dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214) Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91) Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya. Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!” Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-? Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya. Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih! Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia. Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka? Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita? Lalu… Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu? Wallahu a’lam SILAKAN BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT=======>>>KLIK DISINI

Loading...




12 August, 2009

TERIMA DIA APA ADANYA..

Salah satu konsekuensi yang harus kita ambil setelah memutuskan untuk berhijrah yaitu menikah Ketika kita telah memutuskan untuk menikah, kadang yang tergambar dibenak kita adalah seorang calon suami yang akan menjadi pendamping hidup kita adalah seorang yang benar-benar mengamalkan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Ya keinginan yang wajar dan manusiawi jika kita ingin pasangan hidup kita shalih/shalihah, menjaga pandangan pada yang bukan muhrimnya, berusaha selalu membantu pekerjaan isteri, dan sebagainya. Kadang ada suami yang santai membaca koran, sedangkan isterinya sibuk memasak dan mengurus anak-anak, tanpa peduli untuk membantunya. Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap pasangan hidup kita? Berikut adalah tips-tips bagaimana kita menyikapi pasangan hidup kita yaitu sebagai berikut : 1.Terimalah ia apa adanya Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga besar yang berbeda suku, kultur dan budaya serta pola asuh yang diterapkan pada masing-masing keluarga. Tentu saja tidak mudah merubah karakter yang telah melekat pada pasangan hidup kita. Namun Insya Allah dengan ikut tarbiyah, tentu saja perlahan-perlahan kita berusaha untuk menjadi pribadi yang kaffah. Jangan pernah sekali-kali menbandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup teman kita. Yakinlah bahwa Allah pasti memberikan jodoh yang sekufu untuk kita. Bukankah Allah tidak pernah mengingkari janji-janji-NYA? 2.Pandai bersyukur atas anugerah suami yang shalih Alhamdulillah kita harus bersyukur pada Allah SWT, yang telah memberikan anugerah terindah dalam hidup kita yaitu seorang suami yang sevisi dan semisi dalam mengarungi rumah tangga. Coba kita bayangkan rumah tangga yang suaminya selingkuhlah, yang melakukan KDRT dalam rumah tanggalah, yang suami tidak shalatlah. Sementara Alhamdulillah, Allah anugerahkan pasangan hidup kita yang selalu tilawah, rajin datang liqo, aktif da’wah di masyarakat, mengerjakan yang sunnah-sunnah. Sementara rumah tangga lain, mungkin suaminya sering berkata-kata kasar? Sementara kita? Alhamdulillah, suami kita selalu berkata-kata lembut dan sangat menjaga perasaan kita, sebagai seorang isteri. Insya Allah karena suami kita memahami sebuah hadits yang mengatakan, “ Sebaik-baik pria adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarga.” Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan? 3.Saling menutup aib pasangan hidup kita Sebagai aktivis, tentu saja kita juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tetapi idealnya memang kesalahan para aktivis da’wah harus lebih sedikit dibandingkan yang lain. Bukankah kita selalu mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik, kita harus lebih dahulu mengamalkan apa yang kita sampaikan/ceramahkan? Sebaiknya dalam berumah tangga, aib pasangan hidup kita, harus kita tutupi, tidak perlu kita ceritakan pada orang lain, hatta pada adik dan kakak kita. Biarlah semua hanya suami dan isteri saja yang tahu akan aib pasangan hidup kita. Yakinlah di setiap kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah berikan banyak kelebihan pada dirinya..Bukankah setiap pasangan hidup merupakan pakaian bagi pasangan hidupnya? BACA ARTIKEL YANG MASIH BERKAITAN===========>>KLIK DISINI


Loading...





Loading...




Ksetiaan Yang Abadi

Suatu hari seorang nenek datang menemui Rasulullah SAW seraya bertanya “siapakah Anda wahai nenek?” Aku adalah Jutsamah al Muzaniah”, jawab wanita tua itu. Rasulullah SAW pun berkata : “Wahai nenek, sesungguhnya aku mengenalmu, engkau adalah wanita yang baik hati, bagaimana kabarmu dan keluargamu, bagaimana pula keadaanmu sekarang setelah kita berpisah sekian lama?”. Nenek itu menjawab : “Alhamdulillah kami dalam keadaan baik, terimakasih Rasulullah.” Tak lama setelah nenek pergi meninggalkan Rasulullah SAW, muncullah Aisyah ra, seraya berkata : “Wahai Rasulullah SAW seperti inikah engkau menyambut dan memuliakan seorang wanita tua?” Rasulullah menimpali, “Iya dahulu nenek itu selalu mengunjungi kami ketika Khadijah masih hidup. Sesungguhnya melestarikan persahabatan adalah bagian dari iman.” Karena kejadian itu Aisyah mengatakan : “Tak seorangpun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam selain Khadijah, meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah SAW seringkali menyebutnya. Suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikan kepada sahabat-sahabat karib Khadijah”. Rasulullah SAW menanggapinya dan berkata : “Wahai Aisyah begitulah realitanya sesungguhnya darinya aku memperoleh anak”. Dalam kesempatan lain Aisyah berkata : “Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah SAW, sampai-sampai aku berkata “Wahai rasulullah SAW apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu sementara Allah SWT telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?” (maksudnya Aisyah –red bj) Rasulullah SAW menjawab : “Demi Allah SWT tak seorang wanita pun lebih baik darinya, ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah SWT menganugerahkan anak kepadaku darinya.” Itulah sepenggal kisah tentang kesetiaan hakiki, bukan kesetiaan semu. Kesetiaan imani, bukan materi. Kesetiaan yang dilandaskan rasa cinta kepada Allah SWT, bukan cinta nafsu syaithoni, kesetiaan suami kepada istri yang telah lama mengarungi rumah tangga dalam segala suka dan duka. Kecantikan Aisyah ternyata tidak begitu saja memperdayakan Rasulullah SAW untuk melupakan jasa baik dan pengorbanan Khadijah, betapapun usianya yang lebih tua. Kesetiaan inilah yang membuat cendikiawan muslim Nahzmi luqo mengatakan : “Ternyata kecemburuan Aisyah tidak mampu melunturkan kesetiaan Nabi kepada Khadijah, kesetiaan yang diteladani para pasangan suami istri, sekaligus sebagai pukulan KO (Knock Out) untuk para pecundang kehidupan rumah tangga yang menjadi faktor penghambat terwujudnya masyarakat berperadaban.” Kesetiaan… kesetiaan… sekali lagi kesetiaan merupakan sifat dan karakter setiap mukmin sejati. Bukan kesetiaan duniawi , tetapi kesetiaan ukhrowi. Kesetiaan khas dengan nilai-nilai Ilahi : “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan mahligai surga, mereka berperang di jalan Allah, mereka pun terbunuh atau membunuh. Adalah janji sejati atasNya di dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an, siapakah yang lebih setia dari Allah SWT akan janjiNya. Bergembiralah dengan baiat (sumpah setia) yang kalian ikrarkan, itulah keberuntungan yang besar.” (At Taubah: 111)

Ketika Memutuskan Untuk Menikah...subhanallah...

Apakah anda baru saja memutuskan untuk menikah? Anda baru saja memutuskan salah satu hal yang paling penting dalam hidup anda. Anda sedang memasuki tahap baru dalam hidup anda yang akan membuat anda memikirkan banyak hal lebih dari ketika anda masih hidup single. Apalagi kalau anda menginginkan suatu pernikahan yang akan memberkati banyak orang. Pertama-tama, anda tidak hanya memikirkan diri sendiri. Anda juga memikirkan orang lain dalam hidup anda, yang terutama sekali adalah pasangan anda. Hal ini sudah bermula bukan sejak anda memutuskan untuk menikah tapi sejak anda membangun hubungan dengan dia. Anda belajar bagaimana menjaga perasaan dia, dan bagaimana memberikan perhatian kepada dia. Hal ini bukanlah hal yang sulit kalau anda saling menyayangi satu dengan yang lain. Yang terpenting adalah menjaga kasih dan komunikasi tetap ada. Selain pasangan anda, anda juga harus belajar untuk memikirkan orang lain di sekeliling anda, misalnya keluarga anda dan keluarga pasangan anda, yang nantinya akan menjadi keluarga anda juga. Sering kali ketika anda mulai membangun hubungan dengan pasangan, keluarga anda akan merasa kehilangan anda dan keluarga pasangan akan merasa kehilangan pasangan anda sebagai anggota keluarga mereka. Hal ini sangat wajar terjadi karena ketika mulai membangun hubungan, anda merasa perlu untuk banyak menghabiskan waktu bersama pasangan. Akan tetapi hal ini dapat dihindari dengan cara anda juga menghabiskan waktu bersama keluarga pasangan anda untuk mengenal mereka demikian juga sebaliknya. Hal ini sangat baik karena dengan demikian, keluarga pasangan akan merasa memiliki anda, anda dapat mengenal keluarga pasangan dan pasangan anda akan merasa senang karena anda berusaha mengenal dia lebih dalam. Dalam hubungannya dengan keluarga, ada satu point lagi yang penting untuk menghindari konfik, yaitu saling menjaga ‘nama baik’ di depan keluarga. Hal ini sangat penting untuk menjaga hubungan baik antara anda dan pasangan anda maupun antara keluarga anda dan pasangan anda. Memutuskan untuk menikah sama artinya dengan mempersiapkan diri untuk menikah. Apakah arti dari mempersiapkan diri untuk menikah? Apakah itu berarti mempersiapkan restorant, undangan, souvenir, dokumentasi dll? Ya itu hanyalah sebagian dari mempersiapkan diri untuk menikah, atau lebih tepatnya persiapan untuk acara pernikahan. Hal ini penting juga dipersiapkan secara matang, karena tentu saja kita tidak ingin acara pernikahan berantakan karena kurangnya persiapan. Akan tetapi, hal yang lebih penting dari itu adalah persiapan mental untuk menikah. anda akan belajar banyak sekali hal yang perlu anda tahu tentang pernikahan, dan tentu saja dasar-dasar pernikahan. Apa arti pernikahan, tujuan pernikahan, kasih, bagaimana menghadapi masalah-masalah dalam pernikahan, dan lain-lain sebagainya. Ketika anda memutuskan untuk menikah, Pasti ada banyak hal yang akan anda hadapi. Hal tersebut akan menjadi hal yang menarik karena anda dan pasangan anda akan melewatinya bersama. Dan tentu saja, ketika anda berserah kepad Allah, anda akan dapat merasakan betapa Allah juga terus menyertai anda. Ketika anda telah membulatkan tekat, maka bertawakallah...niscaya allah akan membimbing anda disetiap langkah anda pasca pernikahan khusunya...amien.......

29 November, 2008

Kenapa Konsentrasi itu Penting

Kenapa kosentrasi itu penting? Kalau dijawab dengan menggunakan teori dan praktek yang sudah umum, mungkin penjelasan yang bisa diterima adalah antara lain: 1. Kecepatan Kemampuan kita dalam berkonsentarsi akan mempengaruhi kecepatan dalam menangkap materi yang kita butuhkan. Seorang pelajar / mahasiswa yang punya kemampuan bagus dalam berkonsentrasi akan lebih cepat bisa menangkap materi yang seharusnya ia serap. Seorang karyawan yang bisa berkonsentrasi, ia akan cepat menangkap (menguasai) berbagai jenis keahlian yang ia butuhkan. Seorang olahragawan yang bisa berkonsentrasi dengan bagus akan lebih cepat dalam menguasi tehnik-tehnik dan jurus-jurus yang ia butuhkan untuk menjadi bintang. Saking pentingnya konsentrasi ini, Kurt Vonnegut pernah menulis begini: “The secret to success in any human endeavor is total concentration”. 2. Kekuatan Konsentrasi, adalah sumber kekuatan. Apa hubungannya antara konsentrasi dengan kekuatan? Satu dari sekian penjelasan yang bisa menggambarkannya itu adalah cara kerja pikiran. Konon, pikiran kita akan bekerja berdasarkan “ingat” dan “lupa”. Pikiran kita tidak bisa bekerja untuk lupa dan untuk ingat dalam satu waktu. Lupa dan ingat akan dilakukan secara bergantian dalam tingkat kecepatan yang sangat maha super. Kalau anda ingat kebaikan orang, saat itu juga kita melupakan kejelekannya. Sebaliknya, kalau kita mengingat kejelekannya, maka saat itu juga kita melupakan kebaikannya. Teori Neouroscience-nya mengatakan bahwa otak manusia ini berubah sesuai dengan penggunaan. Kemana kita mengarahkan konsentrasi akan diikuti dengan perubahan struktur fisik otak itu (Neuroscience, Funderstanding, 1998-2001) Kaitannya dengan katahanan seseorang terletak pada porsi dan frekuensinya. Kalau pikiran ini lebih sering kita gunakan untuk mengingat atau melihat hal-hal positif dari diri kita, dari keadaan dan dari orang lain di sekitar kita, maka kesimpulan yang tercetak di dalam diri kita adalah kesimpulan positif. Kalau sudah kesimpulan ini yang terbentuk, maka energi yang muncul adalah energi positif. Kekuatan dalam menghadapi kerasnya kenyataan hidup ini terkait dengan energi positif. Berdasarkan pengalamannya, Bruce Lee menyimpulkan bahwa seorang jagoan itu sebenarnya adalah manusia biasa. Bedanya adalah kemampuannya dalam menggunakan konsentrasi seperti sinar laser. Contoh yang dekat itu misalnya kita gagal, entah itu gagal masuk UMPTN atau gagal masuk kerja. Jika yang kita ingat dan yang kita lihat adalah sisi-sisi yang mengecewakan dari kegagalan itu dan dari keadaan itu, maka sekuat apapun fisik kita pasti akan terasa berat untuk melangkah ke opsi lain. Akan beda rasanya ketika kita masih bisa melihat opsi dan alternatif lain atau bisa mengingat-ingat tujuan hidup kita dalam potret yang lebih besar (perspektif jangka panjang). Meski kegagalan itu tetaplah kegagalan, tetapi energi yang keluar dari diri kita berbeda. Yang satu menambah kekuatan dan yang satunya malah mengurangi kekuatan. Untuk bisa mengingat yang positif, untuk bisa cepat melupakan hal yang negatif, dan untuk bisa melihat yang positif, tentu ini terkait dengan kemampuan berkonsentrasi. Mahatma Gandhi menggunakan teknik “ingat” dan “lupa” untuk memperkuat perjuangannya. Ketika dirinya hampir mau putus asa menghadapi penjajahan, Gandhi kemudian memprogram pikirannya untuk ingat bahwa perjuangan menegakkan kebenaran itu selalu akan berakhir menang meski kelihatannya kalah di babak awal. Dengan kata lain, ketahanan seseorang itu tidak semata-mata terkait dengan kekuatan fisiknya. Bukti-bukti yang ada lebih sering menunjukkan bahwa ketahanan itu terkait dengan kemana seseorang memfokuskan konsentrasinya. Konsentrasi, karena itu disebut sumber kekuatan. Kalau anda melihat kesulitan sebagai sebagai kesulitan, ini rasanya seperti bara api. Tapi kalau kita melihat kesulitan sebagai rangkaian yang terpisahkan dari tujuan yang kita inginkan, ini rasa-batinnya akan beda. Kesulitan di sini kita anggap sebagai tantangan (challenge), bukan sebagai tekanan (pressure and tense). 3. Keseimbangan Semakin bagus kemampuan Anda dalam berkonsentrasi, maka semakin cepat Anda bisa menangkap signal dari dalam diri tentang apa yang kurang, apa yang kebablasan, apa yang perlu dilakukan atau apa yang perlu dihindari, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan ini semua maka hidup kita cepat seimbang atau stabil. Sopir yang punya kemampuan berkonsentrasi bagus akan tajam sensitivitasnya. Kalau membaca penjelasan para ahli seputar Kecerdasan Multiple (Multiple Intelligence), konsentrasi ini terkait dengan apa yang mereka sebut dengan istilah Intra-personal intelligence, yaitu: kemampuan seseorang untuk bisa “connect” dengan dirinya (Seven Ways of Knowing: Teaching for Multiple Intelligences, David Lazear. 1991) Temuan di bidang olahraga (Calming The Mind So The Body Can Perform, Robert M. Nideffer, Ph.D., 1995) mengungkap bahwa seorang atlet yang “being in zone” memiliki kualitas antara lain: § Punya perasaan dapat mengontrol dirinya secara penuh dan punya kepercayaan diri lebih kuat § Bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dalam pertandingan sebelum benar-benar terjadi § Waktu berjalan secara normal § Objek tampak lebih luas dan tampak lebih gamblang (pandangan yang cerah) § Bisa beraksi dengan usaha yang tidak terlalu memeras keringat (semua berjalan secara “flow”) § Munculnya rasa senang / riang § Bisa menampilkan kualitas permainan yang melebih harapan Jadi, konsentrasi adalah penggunaan yang proporsional terhadap pikiran untuk bisa fokus pada sasaran yang kita inginkan. Ini berarti konsentrasi itu adalah jalan-tengah (the proper way) di antara dua sisi yang ekstrim, yaitu: distraksi dan “tensi” (tension). Kalau kita tegang, biasanya bukan konsentrasi yang muncul, tetapi adalah over-concentration (pandangan sempit). Sebaliknya, bila kita terkena distraksi: sesuatu yang tidak penting, tidak mendesak dan tidak prioritas untuk kita pikirkan, maka ini adalah under-concentration (ngelantur). Sebab-sebab Apa yang menyebabkan seseorang sulit berkonsentrasi? Wah, sebab-sebabnya tentu banyak. Ini terkait dengan lapisan yang menyusun diri kita. Ada lapisan raga dan ada lapisan jiwa. Jika raga kita bermasalah, katakanlah sakit gigi, ini juga bisa mengganggu konsentrasi. Begitu juga kalau kita lapar atau belum ngopi bagi yang sudah kecanduan. Namun begitu, jika masalah ini sudah berlanjut (akut), umumnya ini terkait dengan soal jiwa (batin). Inipun terkadang sulit dimutlakkan dengan satu penjelasan. Karena itu, di bawah ini saya mencoba merangkum beberapa penjelasan yang mudah-mudahan relevan dengan apa yang anda rasakan: 1. Gangguan keseimbangan emosional Berbagai studi telah mengungkap bahwa stress, distress, depresi dan lain-lain bisa merusak memori (impaired memory) dan konsentrasi (inability to concentrate). Kalau kita kembalikan ke awal (akar), munculnya berbagai gangguan mental itu terkait dengan persoalan pola hidup sehat (positif). Ini sepertinya sudah semacam “hukum alam”. Semakin banyak pikiran negatif, sikap negatif, atau tindakan negatif yang kita biarkan, ya semakin rentan kita terhadap berbagai gangguan itu. Apa ada orang yang selalu positif? Tentu tidak ada. Yang membedakan adalah kemampuan “membersihkan” diri. Konon, 60-75 % penyakit fisik itu terkait dengan soal pikiran yang tidak sehat. 2. Kekosongan emosi Mahasiswa / pelajar yang sudah tidak memiliki alasan kuat kenapa melanjutkan sekolah, apa targetnya, apa tujuan besarnya, apa program-program pribadinya untuk mencapai target itu, akan cenderung mudah merasa kosong batinnya, hambar hidupnya, atau kecil kepeduliaannya terhadap statusnya sebagai pelajar. Kalau sudah begini, konsentrasi belajar pun rendah. Peduli akan memunculkan kemauan yang keras. Kemauanlah yang membuat hidup kita dinamis, selalu terisi dari waktu ke waktu. Begitu juga dengan pasangan rumah tangga yang sudah tidak jelas lagi alasan-alasannya, arahnya, program-programnya. Kekosongan batin ini kerap mereduksi konsentrasi dalam membangun keluarga (to develop). Kalau konsentrasi terus menurun, ya tentunya banyak penyimpangan yang muncul. Ini bisa dari yang masih berstadium rendah sampai ke yang berstadium tinggi, misalnya saja perceraian atau kehampaan rasa ber-rumah-tangga. 3. Manajemen pikiran Konon, pikiran kita itu memproduksi 60.000 –an percikan pemikiran (thought) dalam setiap harinya. Jumlah yang sebanyak itu tentu ada yang melawan dan ada yang mendukung. Nah, supaya bisa mendukung, maka dibutuhkan manajemen. Salah satu unsur manajemen yang paling mendasar di sini adalah kemampuan menangkap (catching). Menangkap di sini maksudnya kita mengetahui apa yang dikerjakan oleh pikiran kita. Kita menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh pikiran kita. Kalau kita sedang mendengarkan ceramah dosen lalu pikiran kita ngelantur kemana-mana dan kita pun tidak menyadarinya, ya pasti saja ngelanturnya kebablasan. Tapi jika kita cepat mengetahui dan menyadari, ya kita akan cepat bisa mengalihkannya. Artinya, konsentrasi kita bisa rusak lantaran kita tidak cepat mengetahui dan menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh pikiran kita. Bagaimana Mengasah Ketajaman Konsentrasi? Seperti yang sudah kita bahas, bahwa penyebab menurunnya konsentrasi itu seabrek. Namun begitu, jika kita merasa apa yang sudah kita bahas itu relevan dengan masalah yang kita hadapi, mungkin kita bisa melakukan latihan (drill) di bawah ini: 1. Perjelas target Anda Target di sini banyak kegunaannya. Selain akan menjadi bimbingan, ia pun bisa mendinamiskan hidup. Dikatakan bimbingan karena kita tidak bisa menyuruhkan pikiran ini berkonsentrasi kalau tidak ada sasarannya. Target adalah sasaran untuk dipikirkan oleh pikiran kita. Pikiran yang kita gunakan untuk memikirkan sasaran demi sasaran akan membuat hidup dinamis. Orang yang hidupnya dinamis dengan target-target yang dimiliki akan jauh dari gangguan dan kekosongan emosi. Jadi, beri tugas pada pikiran untuk memikirkan sasaran, program atau target yang Anda buat. 2. Lakukan dan libatkan Tentu tidak cukup dengan hanya membuat program atau target di atas kertas. Agar target itu benar-benar bermanfaat dalam membimbing dan mendinamiskan, ya dibutuhkan disiplin diri dalam menjalankannya. Lakukan sesuatu yang dapat mendekatkan anda dengan target yang Anda buat. Selain melakukan sesuatu, hal yang terpenting di sini adalah melibatkan diri pada lingkungan yang pas dengan kita (environment system). Temukan orang lain yang kira-kira bisa membuat Anda selalu “connect” dengan program atau target Anda. Temukan lingkungan yang sejiwa dengan Anda. Kalau Anda punya target ingin jago di IT, misalnya, tetapi Anda tidak mengenal orang IT, tidak masuk komunitas IT, jauh dari masyarakat IT, ya tentu saja konsentrasi Anda kurang mendapat dukungan. Pedagang ber-komunitas dengan pedagang. Olahragawan atau seniman ber-komunitas dengan orang-orang yang sejiwa dengan mereka. Anda pun perlu mencontoh begitu. 3. Sering-sering berkomunikasi dengan diri sendiri Ini misalnya menyepi (bukan menyendiri). Menyepi di sini maksudnya Anda memberi ruang dan kesempatan untuk diri sendiri supaya berbicara dengan diri sendiri, self-dialog, self-talk, meditasi, evaluasi, koreksi, refleksi, dan lain-lain. Ini berarti kita tidak perlu ke gunung untuk menyepi. Menyepi dalam pengertian yang luas bisa kita lakukan di tengah keramaian, misalnya di kampus, di kendaraan umum, di perpustakaan, dan lain-lain. Yang penting esensinya di sini adalah kita “ingat” pada diri kita, memikirkan diri kita, memikirkan target kita, memikiran apa yang sudah kita lakukan. Banyak orang yang hampir tidak pernah memikirkan dirinya dalam arti yang positif. Dari pagi sampai malam yang dipikirin orang lain, ingat orang lain, ngobrol ke sana ke mari tentang orang lain, dan seterusnya. Mestinya yang bagus adalah seimbang. 4. Ciptakan sarana (mean) Ini bisa dilakukan dengan membuat tulisan, catatan, gambar atau apa saja yang memudahkan kita mengingat dan melihat target, program atau bidang-bidang yang penting menurut kita. Ini bisa kita taruh di buku, di meja, di HP, di komputer, dan lain-lain. Artinya, ciptakan sarana yang membuat pikiran ini mudah melihat dan mengingat. Temukan acara teve atau radio yang mendukung agenda. Baca buku atau koran atau majalah yang mendukung. Temui orang yang bisa diajak ngobrol tentang apa yang kita pikirkan. 5. Tingkatkan kepedulian Peduli terhadap diri sendiri berbeda pengertiannya dengan mementingkan diri sendiri. Peduli di sini artinya kita berperan seoptimal mungkin berdasarkan status kita. Pelajar yang peduli adalah pelajar yang berusaha berperan seoptimal mungkin sebagai pelajar: ya belajar, ya berorganisasi, ya demo secara positif, ya bergaul, ya mau menghormati guru / dosen, ya macam-macam. Karyawan yang peduli adalah karyawan yang berperan seoptimal mungkin berdasarkan status dirinya sebagai karyawan: ya belajar, ya bisa menerima bimbingan, ya bekerja keras, ya belajar bekerja cerdas, ya tidak ngambek-kan, ya macam-macam. Kenapa peduli ini penting? Alasannya, ketika kita menolak peranan yang seharusnya kita lakukan berdasarkan status kita, maka yang muncul adalah konflik di batin, stress, depresi, distress, dan lain-lain. Ini biasanya diikuti oleh rombongannya, katakanlah seperti: keinginan yang tidak realistis dan akurat, pikiran yang tidak jelas fokus dan sasarannya, hasil yang tidak pasti, munculnya pikiran-pikiran negatif terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap keadaan. Meski kita sering mengasosiasikan konsentrasi itu dengan cara kerja pikiran, tetapi kalau perasaan kita terluka atau terganggu, akibatnya pikiran juga terganggu. Banyak hal yang tidak bisa kita pikirkan dan tidak bisa kita lakukan dengan bagus karena kita sedang menyimpan perasaan yang tidak bagus. Benar nggak begitu? Semoga ini bermanfaat.

02 November, 2008

Dilematis Pernikahan dan Sebuah Prestasi Hidup

Sebut saja namanya Yusuf. Ikhwan semester V yang cukup aktif di lembaga dakwah kampus ini sedang dirundung gelisah. Pasalnya cukup sederhana. Dalam dua bulan terakhir ini ia banyak disibukkan dengan berbagai kegiatan yang temanya tidak jauh dari seputar "pernikahan". Mulai dari seminar, bedah buku, kajian-kajian rutin, dan ditambah lagi dengan diskusi-diskusi dadakan yang terjadi setiap ngumpul bareng teman-teman ikhwannya yang juga tak pernah lepas dari tema yang sama. Dampaknya ternyata cukup dirasakan Yusuf sebagai suatu hal yang Sangat mengganggu kestabilan hatinya. Ia menjadi mudah resah, gelisah, dan berbagai aktivitasnya menjadi terganggu. Karena tanpa disadarinya, ia menjadi sering berangan-angan untuk hal yang satu ini. Keinginannya untuk menikah semakin besar, bahkan ia pun tanpa sengaja membayangkan akhwat mana yang akan mendampinginya kelak. Astaghfirullahaladzim. Hal inilah yang membuat Yusuf semakin bingung. Ibadahnya mau tak mau terwarnai dengan virus hati yang secara tidak sadar sudah masuk ke tubuhnya. Kenapa? Karena mungkin sebenarnya ia belum mempunyai kesiapan yang benar-benar untuk menuju ke sana dalam waktu dekat ini. Niat untuk menikah pastilah ada. Namun bukankah niat itu tetap harus dibingkai untuk Sesuai dengan maknanya? Keseringannya mengikuti atau sekedar menjadi panitia dalam acara-acara tersebut ternyata telah menjadikan niat itu direfleksikan sebagai angan-angan yang seharusnya tidak dilakukannya. Masalah Yusuf di atas mungkin banyak dialami oleh teman-teman kita baik ikhwan maupun akhwat. Pernikahan bagi remaja merupakan masalah yang asyik dibicarakan. Apalagi di usia-usia mahasiswa seperti saat ini. Pernikahan seolah-olah menjadi sesuatu hal yang istimewa dan bersejarah bagi kehidupan seorang manusia. Kesenangan, keindahan, dan kebahagiaan seakan-akan telah menunggu di jenjang pernikahan. Jika kita menikah maka akan bermekaranlah bunga-bunga di beranda rumah kita. Akan ada teman diskusi, tidak single fighter lagi dan yang paling aman akan terjaga hati kita. Masalah ini memang bukan sesuatu yang harus dihindari. Karena pernikahan adalah sesuatu yang fithrah bagi setiap manusia. Yang jadi permasalahannya adalah bagaimana kita menyikapi pernikahan ini dalam hidup. Dalam kaitannya dengan ibadah. Pernikahan yang dilandasi dengan mengharap ridlo Allah SWT, menduduki tingkatan yang tinggi. Dijelaskan bahwa pernikahan separuh dari dien ini. Pernikahan semacam ini bisa mengalahkan jenis ibadah lain. Secara kebutuhan manusia, nikah merupakan sesuatu hal yang biasa. Pernikahan sama dengan kebutuhan manusia untuk makan dan minum, istirahat, belajar, olahraga, dll. Kalau memang pernikahan adalah sesuatu hal yang istimewa, waktunya tidak lebih dari seumur jagung. Waktu-waktu berikutnya akan berjalan seperti biasa. Socrates mengatakan "jika kita menikah kita akan menyesal, tetapi jika kita tidak menikah, kita juga akan menyesal". Sedangkan Lincoln mengatakan "perkawinan bukanlah sorga, bukan pula neraka, tetapi merupakan api pencuci semata". Untuk kasus Yusuf di atas, jika menganggap masalah pernikahan adalah sesuatu hal yang istimewa, sesuatu hal segala-galanya dalam hidup, justru ia nanti akan kecewa, jika sudah memasuki masa pernikahan. Semua impian indah dan angan-angan kesenangan menjadi sirna setelah melihat realita yang dialaminya tidak Sesuai dengan yang diinginkan. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menikah, selain semangat untuk menggenapkan dien. Yang pertama kali harus dilakukan adalah proses demitologisasi, menempatkan kembali posisi nikah menjadi objektif, rasionalis dan realistis. Setelah kita berfikir jernih, utuh dan sehat, barulah kita bisa melihat kembali ke persoalannya. Merumuskan masalah, penuh dengan pertimbangan dan akhirnya menentukan keputusan. Kita lihat sejenak SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Treath) dan lihat 5 W+ 1 H (why, when, who, what, where + how). Dan yang tidak kalah pentingnya adalah doa, sabar, tawakal serta ridlo orang tua. Jika semua memang sudah memungkinkan tidak ada salahnya kita untuk bersegera menuju jenjang pernikahan. Walaupun ada sebuah anekdot yang menyebutkan bahwa pernikahan 25 % kesenangan sedangkan yang lainnya adalah problematika. Di sini tergantung dari individunya masing-masing. Jikalau bisa mengelolanya maka problematika tidak menutup kemungkinan bisa berbuah pula kebahagiaan. Dan akan menjadi bencana serta kesengsaraan jika tidak bisa mengatasi problematika dalam pernikahan. Niat untuk menikah tetaplah harus ada. Bahkan bagi setiap manusia normal pernikahan mau tidak mau harus dilaluinya. Namun pernikahan jangan sampai dilakukan dengan ketergesa-gesaan. Hanya karena semangat ingin menggenapkan dien, tanpa mempertimbangkan factor lain sebagai penunjangnya. Namun ia juga bukan sesuatu hal yang boleh ditunda-tunda jika waktunya telah tiba. Pernikahan tetap harus dipikirkan, dan disesuaikan dengan alur kehidupan kita sendiri. Acara-acara tentang masalah pernikahan perlu tetap ada sebagai fungsi kita terhadap umat. Namun di sisi lain acara-acara tersebut jangan sampai membuat kita menjadi latah yang akhirnya menyebabkan niatan awal kita keluar dari bingkai ibadah, sehingga melenakan hati dan terbawa angan tak bermakna. Bersikap wajar dalam menuju pernikahan. Biarkan semuanya berjalan secara alamiah. Jika telah tiba masanya yakinlah kita pun akan melalui. Wallahu alam bi showab. "ya Allah…jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan, Amiin…"

14 October, 2008

Sinopsis "Beib,Aku Suka. Cinta Banget, Gitu loh...!"

Tokoh dalam novel ”Beib,Aku Sakau. Cinta Banget, gitu loh..!” adalah seorang laki-laki yang bernama Bintang Aksa Saputra. Dalam novel tersebut diceritakan tentang Bintang yang tergila-gila pada seorang wanita bernama Bulan. Dari kisah novel inilah, saya akan mencoba menganalisis kepribadian seseorang, dalam hal ini saya akan menganilsis tokoh bintang sesuai dengan teori-teori tipologi temperamen yang ada. Diceritakan dalam novel, tokoh Bintang sangatlah jatuh cinta pada seorang Bulan. Dia mulai menghidupkan khayalan dalam pikiran-pikirannya tentang kisahnya bersama Bulan. Dia mulai senang menulis dan menumpahkan perasaannya ke dalam puisi-puisi. Menurut teori Plato, yang membedakan adanya tiga bagian jiwa. Bagian jiwa yang paling dominan dari seorang Bintang adalah hasrat (ephitumid) yang berkedudukan di perut. Karena hal itulah, dia merupakan tipe yang dikuasai oleh hasrat. Hasrat seorang Bintang yang begitu menginginkan Bulan menjadi seorang kekasih sekaligus pelabuhan cintanya yang terakhir. Hal itu di buktikan dengan kata-kata Bintang yang berjanji akan berubah dan setia pada Bulan. Merubah kebiasaan-kebiasaan yang buruk yang sebelumnya sering ia lakukan sebelum berjumpa dengan Bulan. Queyrat merupakan salah satu tokoh yang mengikut mahzab perancis. Dimana ia menyusun tipologi atas dasar dominasi daya-daya jiwa, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Pada tokoh Bintang, aspek yang dominan ada 2 yaitu tipe emosional dan mediatif dimana daya afektif dan kognitif dominan. Sehingga kepribadian Bintang cenderung sentimental. Dia bisa begitu peka pada tiap moment yang dia lalui dan khayalkan bersama Bulan dan menumpahkannya melalui puisi-puisi yang tak pernah absen hanya untuk Bulan seorang. Padahal di antara teman-temannya Bintang terkenal seorang playboy. Namun, ketika berjumpa dengan Bulan, ia rela menunggu di antara ketidakpastian tentang perasaannya. Bila dijelaskan dengan teori Tipologi Malapert yang menggolong-golongkan manusia atas dasar dominasi daya-daya atau aspek kejiwaan tertentu. Maka tokoh Bintang dalam novel, termasuk tipe afektif, yang terdiri atas golongan emosional dan bernafsu (tabah). Di dalam novel, Bintang rela menjadi lelaki sempurna dihadapan seorang Bulan. Kecintaannya pada Bulan, membuatnya tenggelam dalam dunia khayalan yang terus-terusan dia ciptakan sendiri. Dia selalu mengukir bayang wajah bulan dalam setiap nafas dan aktivitasnya. Terkadang dia rela membatalkan janjinya dengan teman-temannya, hanya karena Bulan. Dia juga menjadi pemurung dan suka melamun bila bersama teman-temannya, padahal sebelumnya Bintang tak pernah seperti itu. Hal inilah yang memperlihatkan sisi diri Bintang yang sentimental. Namun, dibalik keinginannya yang besar untuk memiliki Bulan, Bintang selalu tabah dan sabar walaupun dia tak pernah mengetahui perasaan Bulan terhadapnya. Bahkan ketika cintanya di tolak oleh Bulan, Bintang tetap menuruti keinginan Bulan yang menghendakinya untuk tidak berubah. Selain teori-teori tersebut, terdapat juga teori yang dikemukakan oleh Imanuel Kant. Menurut Kant, terperament dianggap mengandung 2 aspek,yaitu : aspek fisologis dan aspek psikologis. Aspek psikologis inilah yang teridiri atas 2 macam termperamen, yaitu temperamen perasaan dan temperamen kegiatan. Temperamen perasaan terdiri atas 2 macam, terperamen tersebut adalah sanguinis dan melancholis. Sedangkan temperamen kegiatan adalah phlegmatis dan choleris. Tokoh Bintang dalam novel ini, merupakan tokoh yang dapat digolongkan ke dalam tipe temperamen melancholis. Karena dalam novel yang menceritakan kisah cinta seorang Bintang kepada Bulan ini, Bintang selalu memandang perasaannya kepada Bulan adalah hal yang terpenting dan selalu disertai kegelisahan, kebimbangan tentang keadaan dirinya dan Bulan hingga terkadang membuatnya merasa terjebak dalam penantian panjang dan tidak menentu. Selain tipologi Kantianisme, terdapat juga Tipologi Neo-Kantianisme yang dikemukakan oleh Enselhans, yang membatasi temperamen pada segi perasaan saja. Adapun temperamen itu bergantung pada dua hal pokok yaitu kehidupan afektif dan bentuk kejadian afektif. Kedua hal diatas menimbulkan kekuatan pengerak daipada perasaan dan akhirnya merupakan impuls dari kemauan. Menurut tipologi ini, Bintang yang merupakan seorang melancholis memiliki kepekaan kehidupan afektif yang mendalam, bentuk afektif mobilitas yang tetap, kejadian kekuatan yang kuat, kekuatan penggerak daripada perasaan yang tergolong lemah sehingga sifatnya selalu murung dan melamun. Karena dia tergila-gila pada Bulan, dia hampir selalu melamunkan Bulan dan murung jika ingat bahwa dia hanya bertepuk sebelah tangan. Novel ini juga menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Bintang Aksa Saputra yang jatuh hati pada seorang wanita bernama Bulan. Perkenalan mereka sangatlah sederhana, dari kesederhanaan itulah, Bintang mulai sadar bahwa Bulan telah menghadirkan getar dalam hatinya setelah 5 tahun ini tak pernah ia rasakan. Bintang begitu mengagumi Bulan, hingga ia benar-benar jatuh cinta pada sosok gadis itu. Seorang Bintang yang dikenal playboy dikalangan teman-temannya, yang hobi dugem dan minum, yang punya banyak koleksi cewek, yang hobinya ber’one-night stand” sama cewek yang ia sukai di cafe. Tiba-tiba berubah drastis setelah mengenal Bulan, ia menjadi seseorang yang suka melamun, merubah kebiasaannya selama ini bersama wanita-wanita sebelumnya. Menjadi seorang yang benar-benar mabuk cinta hingga rela berada dalam penantian panjang yang tak menentu tentang hubungannya dengan Bulan. Hingga membuatnya seperti mayat hidup yang hanya bisa segar kembali di dunia khayalan yang ia ciptakan sendiri dalam pikirnya. Saking cintanya hingga seorang playboy seperti Bintang mampu dibuatnya menangis dan tertawa dalam waktu yang sama. Bintang benar-benar saka terhadapa sosok Bulan. Novel ini mampu menceritakan sisi sentimental dari seorang laki-laki ketika mencintai seorang wanita. Hal itu terlihat dari puisi-puisi yang tertuanng dari seorang Bintang untuk Bulan.

30 September, 2008

Lebaran Telah Usai

Hingar bingar lebaran di hari raya idul fitri telah terlewati dan perlahan kian lama kian surut… Acara lebaran kini identik dengan acara pesta hura-hura dan semakin terasa aroma duniawinya… Tapi yang pasti jangan sampai makna sesungguhnya dari Idul Fitri itu luntur, amin… Idul fitri seharusnya menjadi hari dimana kita saling berintrospeksi diri atas semua yang telah kita perbuat setahun terakhir ini, kita harus menjadi sosok yang senantiasa lebih baik dari hari ke hari, paling tidak itulah yang diharapkan dari makna sesungguhnya hari raya Idul Fitri. Oke, sekarang kita bahas acara mudiknya. Tahun ini acara mudik saya sepertinnya sedikit lebih seru,kalo kemaren hanya surabaya bangkalan-sampang -pamekasan - sumenep naek sepeda motor sekarang ada tambahan rute gtolhoh. keliling-keliling dari beberapa kota di Jawa Timur. Bedanya tahun ini menempuh perjalanan sejauh 368 km selama 2 hari ini. Dengan rute, Surabaya - Mojokerto - Jombang - Nganjuk - Kediri. Banyak pengalaman seru di jalan, mulai dari nyaris nabrak helm jatuh, kemacetan hebat karena lewat jembatan ambrol, motor mendadak mogok, dll. Sabtu, hari pertama lebaran itu saya habiskan di Surabaya bersama Keluarga dari Mertua, kemudian hari kedua di Surabaya - Mojokerto - Jombang - Nganjuk - Kediri. Akhirnya pulang lagi ke kota Pahlawan dan tempat kumenghabiskan sebagian usiaku, surabaya. Bertemu kembali dengan keluarga besar di kosanku, mbah-mbah kos q, Hari ketiga, keliling-keliling ke rumah teman kampus dulu. Hari keempat, ngumpul, makan-makan dan ngobrolin masa lalu dan juga rencana di masa depan ini… Hari kelima, waktunya Masuk kerja lagi dong...hehehehehhh..... teman-teman gimana pasti seru juga kan?

anda suka dengan tulisan-tulisan saya silakan masukkan email anda untuk berlangganan secara GRATIS disini GRATIS:
Nama:
Alamat email:

This form powered by Freedback

Resensiku....